Daya Ungkit Bisnis

Daya Ungkit Bisnis

Kalau kita memulai bisnis dengan berpikir akan berhasil maka akan berhasil juga bisnis kita; tapi jikalau yang kita pikir kegagalan, maka realitas yang akan kita hadapi juga kegagalan. Akademi Manajemen Dian Nuswantoro Semarang awalnya tidak terkenal di kalangan dewasa Indonesia. Paling tidak gres dewasa Semarang dan sebagian Jawa Tengah saja yang mengenal perguruan tinggi tinggi milik Ir. Edi Noersasongko, M.Kom.

Tapi Edi Noersasongko tak kurang nalar untuk mengungkit pamor kampusnya, dipilihlah Basuki menjadi bintang iklan dengan key word: “Ini Toh, kampus Manajuminem Dian Nuswantoro”. Sekarang semenjak istilah Manajemen dipelesetkan sebagai Manajuminem oleh Basuki, perguruan tinggi tinggi itu malah jadi makin nge-top dan berkembang maju.

Menciptakan daya ungkit bisnis yakni salah satu seni tersendiri bagi seorang entrepreneur dalam menjaga stamina bisnisnya. Untuk bisa survive dan berkembang, seorang pengusaha harus kreatif membuat daya ungkit dan menjaga nama besar perusahaannya. Seorang pengusaha pun dituntut untuk terus menerus menjaga energinya, bahkan seharusnya terus bertambah. Berkurangnya energi sang pengusaha bisa berdampak serius bagi usahanya, bisa seret bahkan jikalau fatal bisa membuat perjuangan kita bangkrut. Daya ungkit dalam bisnis, dalam buku yang ditulis pakar entrepreneur dunia, Robert Kiyosaki, disebut sebagai leverage.

Menurut Robert, dengan mempunyai daya ungkit, maka apa yang kita pikir kasatmata itulah yang akan menjadi realitas kita. Kalau kita memulai bisnis dan berpikir akan berhasil maka
akan berhasil juga bisnis kita: tapi jikalau yang kita pikir kegagalan, maka realitas yang akan kita hadapi juga kegagalan.Menciptakan daya ungkit dengan trik-trik bisnis yang kreatif merupakan kiat yang efektif ketimbang dua modus lainnya yakni daya ungkit fisik dan daya ungkit finan.

Kalau daya ungkit lewat otak, kita harus memaksimalkan lahirnya ide-ide kegiatan untuk mengungkit bisnis kita. Kita mencatat misalnya, perjuangan Es Teller 77 yang dirintis Sukiatno Nugroho, sebelumnya belum dikenal, tapi diapun membuat aktivitas lomba membuat es teller se-Jakarta yang diikuti banyak peserta. Acara itu diliput media dan nama Es Teller 77 sebagai penyelenggara makin populer. Setelah ngetop, Sukiatno tidak membuat lomba es Teller lagi, alasannya yakni lomba itu hanya dijadikan leverage bagi bisnisnya.

Di kalangan pengusaha makanan tradisional, leverage bisnis juga disadari artinya. Tak absurd jikalau di aneka macam kota kita sering menemukan warung makan dengan nama “Gado-Gado Juara Tiga” atau “Lotek Bonbin Juara Satu”.

Mereka sadar jikalau prestasi yang pernah mereka sanggup bisa jadi leverage bagi usahanya. Konsumen tentu akan percaya bahwa lotek atau gado-gadonya akan dijamin yummy alasannya yakni sudah sanggup juara.Selain kreatif dengan ide-ide bisnis, daya ungkit fisik juga diharapkan dalam menjaga stamina bisnis kita. Seorang penerima aktivitas Entrepreneur University, pernah bercerita bahwa order percetakannya meningkat pesat semenjak beliau berani mengubah mobilnya menjadi lebih bagus. Mobil dan rumah atau daerah perjuangan yang manis memang mempunyai daya ungkit secara fisik yang terbukti meningkatkan pamor bisnis kita. Tak ada salahnya semenjak awal memulai bisnis, kita tak perlu alergi pada ekspo kendaraan beroda empat atau rumah mewah.

Jangan segan atau takut mendatangi aktivitas ekspo kendaraan beroda empat atau ekspo rumah.

Kalau perlu tanyakan satu persatu harga dan cara pembeliannya. Bukankah kedua barang itu selalu bisa dibeli dengan cara mencicilnya? Dengan tahu harganya, kita menjadi berani mengukur kemampuan atau setidaknya menjadi sasaran untuk memilikinya. Keinginan untuk mempunyai itulah yang akan memacu kita untuk bekerja keras memajukan perjuangan kita sehingga harapan itu bisa terwujud.Kalau telah berhasil mewujudkan harapan secara fisik, jangan cepat berpuas diri atau merasa sudah sukses.

Jadikan kelebihan harta yang kita sebagai daya ungkit finansial. Bisa menjadi agunan ketika kita akan meminjam dana dari bank.Tidak dipungkiri, hingga dikala ini, bonafid tidaknya bisnis kita masih sering dilihat oleh kawan bisnis dari kacamata fisik. Mulai penampilan pakaian, kendaraan hingga rumah tinggal kita.

Jadi, cerdas-cerdaslah memutar otak
temukan ide-ide kegiatan bisnis yang bisa mengungkit nama baik perjuangan kita. Jaga dan terus kembangkan aset yang
kita miliki jangan hingga jatuh. Sekali kita jatuh, biasanya susah untuk memulai lagi dari nol.

Post a Comment

0 Comments