Peluang Perjuangan Pengembangbiakan Belut


Koperasi Usaha Cipta Mandiri yang dipimpin oleh Gunadi memang masih relatif muda, namun wawasan yang dikembangkan sangat luas dan menjangkau masa depan.

Komitmen koperasi ini kepada rakyat kecil, petani dan peternak belut sangat tinggi, sehingga mereka mencari informasi selengkap mungkin untuk kemajuan dan kesejahteraan penangkap belut alam dan pembudidaya belut. Pengamatan yang dilakukan koperasi perjuangan ini memang mencengangkan, alasannya sanggup mengungkap kondisi pasar lokal DIY dan sekitarnya. Disamping itu kondisi belut alam sebagai sumber mata pencaharian beberapa keluarga dipedesaan telah mengalami banyak penurunan bahkan menghilang samasekali dimusim kemarau, sehingga memerlukan langkah-langkah konkrit biar penghasilan dan kesejahteraan mereka tidak menurun.

Pasar Godean, sebagai teladan memerlukan suplai belut segar seberat tujuh kuintal. Hasil pengamatan yang lain yaitu home industri belut di DIY dan Jateng memerlukan sekitar 1-2 kuintal per industri. Kondisi ini sangat menunjukkan impian bagi pembudidaya belut, alasannya pasar masih sangat terbuka. Kebutuhan-kebutuhan belut segar bagi pasar tradisional dan home industri ini dikala ini disuplai dari Jawa Timur dengan kapasitas 50 kilogram per home industri.

Pelatihan budidaya belut ini dimaksudkan untuk membuka wawasan semua pihak yang menggantungkan hidupnya dari bisnis belut. Disamping itu, dengan pelatihan, diharapkan sanggup memperdalam pengetahuan dan ketrampilan budidaya belut, sehingga mencapai taraf profesional, alasannya perjuangan belut ini sanggup dijadikan profesi yang mempunyai masa depan cerah. Ir. RM. Sonson Sundoro sebagai nara sumber dan pakar belut nasional mengawali pembinaan teknis budidaya belut ini dengan menunjukkan citra kepada akseptor wacana perjuangan belut.
Kesempatan ini diawali dengan penulisan buku wacana budidaya belut yang mendasarkan pada uji coba selama kurang lebih dua puluh tahun yang dilakukannya dibantu orang renta seorang pakar perikanan. Sonson mengungkap prospek budidaya belut cukup luas peluangnya, alasannya masyarakat dunia mulai mengenal manfaat mengkonsumsi belut.

Pasar dan peluang bisnis
Peluang eksporpun terbuka sangat luas, pada tahun 1998 Jepang membutuhkan belut segar seberat lima ton, namun jumlah ini tidak pernah sanggup dipenuhi, alasannya acuan ekspor ini masih dari hasil tangkapan belut alam yang dimusim kemarau sangat sulit didapat. Disamping itu kualitas, terutama segi ukuran, tidak sanggup dipertahankan, alasannya belut alam ini setiap hari ditangkap, sehingga tangkapannya semakin kecil dan bahkan dalam dua tahun stok sudah habis.
Pengalaman pahit ini memaksa untuk dilakukan perubahan basis ekspor yang semula belut alam menjadi belut budidaya, sehingga dari segi jumlah dan kualitas sanggup dijaga.

Pasar Asia Selatan dan Asia Tenggara mulai 2001 mulai nampak membuktikan kenaikan yang berarti. Hal ini terlihat dari seruan mereka ke Indonesia untuk Hongkong sepuluh ton per hari per pengusaha importir padahal kemampuan gres mencapai tiga ton per hari. Permintaan lain tiba dari Malaysia delapan puluh ton per minggu, Korea sepuluh ton per minggu, Harga yang importir menetapkan juga membuktikan penghasilan yang menggiurkan, alasannya Hongkong memutuskan 4,5 dolar amerika per kilogram belut segar. Jepang bahkan lebih menjanjikan lagi dengan 9-10 dolar amerika per kilogram belut segar.

Pasar dalam negeri, bahkan lokal DIY dan sekitarnya juga tidak kalah terbukanya. Pasar dalam negeri telah dipatok harga perkilogramnya sebesar Rp. 10.000,00. untuk plasma. Pasar Jakarta membutuhkan 20 ton per hari dan DIY dan sekitarnya sebanyak 150 home industri terpantau membutuhkan kurang lebih 300 kuintal per hari. Permintaan ini juga tiba dari Super market sebanyak 5 kuintal per hari.

Lebih lanjut Sonson menyampaikan bahwa bagi pemula diharapkan mau berguru budidaya dan sifat belut, sehingga kanibalism tidak terjadi pada kolam produksi. Disamping itu persyaratan kolam, sehingga belut sanggup berkembang dengan baik dan kondusif dari hama dan predator alami. Kolam ini sanggup diatas atau menggali tanah.

Kolam belut



Pembuatan kolam belut diawali dengan perencanaan konstruksi kolam, pemilihan lahan. Hal ini dilanjukan dengan penggalian tanah atau pembuatan kolam diatas tanah, baik untuk kolam penampungan induk, kolam pemijahan dan pendederan maupun kolam pembesaran.

Kolam-kolam ini mempunyai ukuran tersendiri antara lain Kolam Penampungan Induk berukuran 200 cm X 400 cm kedalaman 80 cm, Kolam Pemijahan dan Pendederan berukuran 200 cm X 200 cm kedalaman 100 cm, Kolam Pembesaran berukuran 500 cm X 500 cm kedalaman 120 cm. Disamping ukuran dan persyaratan lahan juga dilengkapi dengan media pemeliharaan dengan urutan dan ukuran antara lain sebagai berikut :

1. Jerami setinggi 40 cm.
2. Pupuk Urea 5 kg dan NPK 5 kg (kolam berukuran 500 cmX500 cm atau perbandingannya).
3. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
4. Pupuk Kandang setinggi 5 cm.
5. Pupuk kompos setinggi 5 cm.
6. Lumpur/tanah setinggi 5 cm.
7. Cincangan Batang Pisang setinggi 10 cm.
8. Lumpur/tanah setinggi 15 cm.
9. Air setinggi 10 cm.
10. Enceng gondog sebanyak 3/4 permukaan kolam.

Media pemeliharaan ini didiamkan biar terjadi proses permentasi selama kurang lebih dua minggu, sehingga siap untuk ditaburi bibit/benih belut yang akan dibudidayakan.

Pelaksanaan pengembangbiakan sanggup dimulai sehabis kolam dan media pemeliharaan siap. Langkah berikutnya yaitu menentukan bibit belut yang baik biar karenanya sanggup maksimal. Bibit belut ini harus dipilih yang tepat atau normal dan singkirkan yang tidak normal. Belut yang berkualitas ini akan menghasilkan keturunan yang baik, sehingga akan berkembang dengan baik pula. Belut berkualitas memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Anggota badan utuh dan mulus yaitu tidak ada luka gigitan.
2. Gerakan lincah dan agresif.
3. Penampilan sehat yang dicirikan badan yang keras dan tidak lemas manakala dipegang.
4. Tubuh berukuran kecil dan berwarna kuning kecoklatan.
5. Umur antara 2-4 bulan.

Ciri-ciri Induk Belut yang baik sanggup dikenali melalui penampilan :

1. Induk Belut Jantan. -Berukuran panjang lebih dari 40 cm. -Permukaan Kulit lebih gelap atau abu-abu. -Bentuk Kepala Tumpul. -Umur lebih dari sepuluh bulan.
2. Induk Belut Betina. -Berukuran panjang antara 20-30 cm. -Permukaan Kulit lebih cerah dan warna putih kekuningan pada perutnya. -Bentuk kepala runcing. -Umur dibawah sembilan bulan.

Belut ini gampang berkembangbiak dialam terbuka dan tidak sulit dibudidayakan dikolam yang mirip habitatnya serta menunjukkan penghasilan yang cukup menjanjikan.

Pemasaran belut baik budidaya maupun tangkap akan dijamin oleh Koperasi Usaha Cipta Mandiri Yogyakarta.

Perkembangbiakan belut, setahun sekali, akan dimulai dengan Belut jantan menciptakan lubang mirip karakter “U” dan gelembung udara yang menarik betina.

Perkawinan akan terjadi pada lubang dan telur akan bertaburan dibawah gelembung udara yang benyerupai busa. Telur-telur ini selanjutnya akan dicakup Belut Jantan untuk ditetaskan di lubang persembunyian dengan pengawasan Belut jantan selama 9-10 hari dialam terbuka dan 12-14 hari dikolam pemijahan. Belut muda ini akan mencari makan sendiri dan lepas dari belut jantan sehabis berumur 15 hari.

Secara alami belut memakan hewan lain yang lemah, alasannya itu mereka harus menciptakan lubang perangkap yang mirip terowongan yang berkelok biar mangsanya tidak gampang lepas.

Belut ini sanggup dipanen sehabis tiga bulan penaburan untuk pasar lokal, namun pasar ekspor minimal enam bulan. Kolam sehabis panen diperbaiki dan diganti media pemeliharaannya biar zat renik yang diharapkan pemeliharaan berikutnya sanggup tersedia cukup.

Oleh heri/win

Post a Comment

0 Comments