Meraih Penghasilan Dari Rumah


"Ide menjalankan bisnis rumahan, sungguh inspirasi yang menarik. Waktunya fleksibel, bebas stress karena kemacetan kemudian lintas, tak terlalu banyak aturan dari perusahaan, dan banyak sekali kelebihan lainnya. Bagaimana memulainya?"

Bisnis atau perjuangan rumahan yaitu bisnis yang dijalankan dari rumah. Bisa jadi sebagian atau seluruh kegiatannya dilakukan di luar rumah, namun sentra dari kegiatan itu tetap dijalankan dari rumah.


Sebagai sebuah sambilan, bisnis semacam ini sanggup menambah pemasukan. Namun tak jarang pula bisnis ini menjadi sebuah pekerjaan utama bagi sebagian orang. Sebagai sebuah pekerjaan utama dan dikelola secara serius, bisnis rumahanpun bisa berkembang jadi sebuah indutri yang tidak hanya menambah pemasukan keluarga, bahkan bisa menghidupi banyak orang. Banyak cerita sukses perusahaan besar bermula dari sebuah bisnis rumahan.

Sebagai langkah awal, bisnis yang dijalankan dari rumah ini sepertinya cocok dengan kehidupan ibu rumah tangga. Dengan waktu yang fleksibel, seorang ibu sanggup membagi waktu antara bisnis dan urusan keluarga, semisal mengurus anak-anak, dengan sangat leluasa. Maka penghasilan tambahan didapat, keluargapun terawat.

Penghasilan dari rumah
Menurut Ustadz Iskan Qolba Lubis MA., Islam tak melarang suami istri punya penghasilan masing-masing. Tapi yang wajib membiayai keluarga tetap suami. Namun bagi seorang istri, mempunyai penghasilan sendiri tentu membuatnya lebih “bebas”. “Dalam arti jikalau uangnya banyak, ia bisa membantu orangtuanya. Mungkin ia tak yummy bila membebankan itu pada suaminya terus. Kemudian ia juga ingin lebih banyak berinfaq. Saya rasa pria dan wanita sama, ingin bersedekah, ingin banyak membantu,” urai lulusan kegiatan master untuk Islamic Studies dari Punjab University, Pakistan ini.

Dalam memperoleh penghasilan, berdasarkan Iskan ada 3 cara yang bisa ditempuh perempuan, yaitu bekerja pada orang lain, menjadi enterpreneur (wirausahawan) dan menjadi investor. Melihat fungsi dan kiprah seorang ibu, ayah 3 orang putra ini melanjutkan bahwa yang menurutnya ideal dan cukup realistis, tentu tanpa mengecilkan arti pekerjaan lainnya, yaitu menjadi seorang enterpreneur. “Karena dengan enterpreneurship ini, ia berarti perjuangan sendiri dan berarti pula ia bebas mengelolanya. Diapun sanggup menentukan kapan ia mau keluar, mungkin ia bisa mengantar anaknya dulu,” terang dosen pada Sekolah Tinggi Tafsir Hadits, Bekasi ini.

Sejalan dengan pendapat itu, Safir Senduk, konsultan keuangan keluarga yang mengisi rubrik konsultasi keuangan di banyak sekali media massa, pekerjaan di rumah semacam ini akan memberi kesempatan bagi sebagian orang untuk tetap bisa melaksanakan tugas-tugas lainnya yang memang perlu dilakukan dari rumah. “Kalau contohnya ada hal-hal yang harus diawasi dari dalam rumah, tak usah ia tinggalkan. Dia tetap bisa berfungsi menyerupai biasa, contohnya fungsinya sebagai seorang ibu,” kata pendiri Biro Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan ini.

Di luar soal sisi ideal bisnis rumahan bagi perempuan, Tyas U. Soekarsono Ph.D, dosen pada FEUI, beropini bisnis semacam ini selain memecahkan problem ekonomi rumah tangga juga punya kiprah yang lebih besar. Bisnis-bisnis rumahan yang telah berkembang ternyata telah menjadi katup pengaman perekonomian Indonesia. Bagaimana tidak, disinyalir ada hampir 40 juta pengusaha kecil dan menengah di seluruh Indonesia. Sementara jumlah pengusaha di seluruh Indonesia ada 40 juta. Berarti 99 persen pengusaha di Indonesia yaitu pengusaha kecil dan menengah. Siapa mereka? Ternyata mereka yaitu pelaku bisnis rumahan.

Dengan perbandingan menyerupai itu, otomatis bisnis rumahan menyerap tenaga kerja paling banyak. “Pengusaha besar itu hanya mengambil 0,1 persen dari seluruh tenaga kerja yang ada di Indonesia. Berarti 99 persen tenaga kerja diserap oleh UKM (Usaha Kecil dan Menengah-red),” terang Tyas. Ini menunjukan bahwa keberadaan bisnis rumahan tak bisa dipandang sebelah mata. Dan terjunnya seseorang ke perjuangan semacam ini sudah selayaknya menerima dukungan.

Memulai usaha
Menurut Tyas ada 2 hal utama yang karenanya mendorong orang untuk membuka usaha. “Pertama, seseorang melaksanakan sesuatu sebab memang cita-cita jiwanya, ia mau jadi enterpreuner. Atau sebab kepepet,” kata doktor lulusan University of Illinois, Amerika Serikat, ini.

Dia mencontohkan keberadaan para pedagang “Sogo Jongkok” di Pasar Tanah Abang, Jakarta, yaitu jawaban krismon yang menjadikan gelombang PHK besar-besaran. Karena kepepet, para mantan karyawan itu membuka perjuangan kecil-kecilan semacam itu. Dengan keadaan kepepet menyerupai ini biasanya orang jadi kreatif dan bisa melaksanakan banyak hal untuk tetap bertahan hidup, termasuk merintis perjuangan rumahan ini.

Iskan menambahkan pula, bahwa ketika insan mempunyai suatu cita-cita dan kemudian memikirkan bagaimana mendapatkannya, maka otak akan bekerja lebih cepat. “Nanti akan timbul alternatif-alternatif,” ujarnya. Berbagai pilihan kemudian muncul dan kita bisa menentukan cara semoga sanggup tercapai cita-cita kita. Agar keluarga bisa hidup lebih sejahtera, maka perlu dipikirkan cara untuk menambah pemasukan keluarga. Potensi diri bisa terus digali.

Sesungguhnya banyak potensi wanita yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan keluarga. Iskan mencontohkan bekerjsama banyak ibu rumah tangga yang mempunyai keahlian, menyerupai di bidang akuntansi dan hukum. Dengan keahlian semacam itu, ia bisa saja membuka jasa konsultan dimana seluruh waktu bisa diatur sendiri olehnya. Pun bisa dilakukan tanpa terlalu sering meninggalkan rumah.

Awalnya mungkin terasa amat sulit, terutama bagi ibu rumah tangga yang sudah terbiasa “menganggur” di rumah. “Sekarang coba ia bermunajat. Di tengah malam ia berdiri dan berdoa,” anjur Iskan lagi. Dengan pertolongan dari Allah, tentu seluruh gerak yang kita lakukan akan terasa jauh lebih mudah.

Sebelum memulai perjuangan tentu ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Namun yang terpenting berdasarkan Safir Senduk yaitu mental untuk tak terlalu cepat mengharap untung. “Yang paling penting yaitu orang itu harus bersedia tidak menikmati hasilnya selama beberapa bulan ke depan,” kata lulusan STIE IBMI, Jakarta, ini. Jadi, kesabaran sangat diperlukan.

Sedang berdasarkan Ustadz Iskan yang pertama perlu dipersiapkan yaitu mental untuk berjuang. “Jangan dulu berpikir segala-galanya itu sulit. Peluang itu puluhan ribu,” imbuhnya. Kemudian yang perlu dilakukan yaitu membuka mata untuk memperluas wawasan pada kegiatan perjuangan yang ingin dikembangkan. Setelah mengetahui secara niscaya medan yang akan kita jalani, barulah kita terjun ke sana.

Sementara Tyas, yang juga menjabat sebagai Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI), memaparkan hal-hal yang lebih teknis. Menurutnya yang harus dipertimbangkan dikala memulai perjuangan yaitu pertama, produk itu sendiri. Seseorang yang ingin memproduksi atau menjual suatu produk, harus tahu betul spesifikasi dagangannya. Dia harus memastikan produknya bisa laris di pasaran. Marketing jadi hal mutlak yang harus diperhatikan, dari pengemasan hingga siapa sasaran pasar mereka. “Misalnya bisnis rumahan, jikalau lokasinya di tempat orang-orang menengah ke atas, mungkin kurang cocok jikalau contohnya berdagang peci. Akan lebih cocok jikalau dagang aksesoris mobil,” gambar ayah 5 anak ini.

Kerja keras dan ketekunan
Keseriusan dan ketekunan yaitu poin penting lainnya yang mendukung keberhasilan sebuah usaha. “Tidak mungkin sebuah perjuangan bisa langgeng dan berkembang jikalau tidak diseriusi,” tegas Tyas. Sebagai sebuah perjuangan sambilanpun perlu adanya keseriusan, apalagi sebagai sebuah perjuangan utama. Soal waktu dan sebagainya, khususnya dalam bisnis rumahan yang dijalankan ibu rumah tangga, bisa disiasati. Yang penting, serius!

Keseriusan ini otomatis akan menciptakan seseorang bersedia bekerja keras. Namun hendaknya kerja yang dilakukan tak sekedar keras, tapi juga pintar. “Work hard dan work smart, kerja keras tapi yang berilmu kerjanya. Kaprikornus jangan kerja keras yang kemudian tidak efektif dan tidak efisien,” kata Tyas. Maksudnya semua yang dikerjakan harus terstruktur dengan tujuan yang terang pula semoga kemudian seluruh kerja bisa dievaluasi.

Sebagai seorang pengusaha juga, Tyas melihat abjad yang bekerjsama harus dihindari, namun umumnya ada pada para wirausaha di sini yaitu cepat puas dan gampang putus asa. Sekali saja berhasil, orang jadi cepat puas dan malas berbagi diri. Sebaliknya, kegagalan eksklusif menjatuhkan mentalnya. Padahal sesungguhnya keberhasilan dan kegagalan yaitu proses belajar. Tidak ada yang sekali jadi. Selalu saja ada ujian. “Itu pasti. Jangankan pengusaha kecil, pengusaha besar saja banyak yang bangkrut. Itu sudah sunnatullah. Kaprikornus pada pada dasarnya harus mempunyai mental yang kuat. Jangan malas dan cepat puas. Ini yaitu kerja keras,” papar suami Ira Rachmasari ini.

Sikap all out, berdasarkan Ustadz Iskan, terutama sangat diharapkan pada tahun-tahun pertama perjuangan rumahan. Setelah berjalan beberapa tahun dan teruji kemapanannya, seseorang akan bisa menciptakan sistem untuk menjalankan perjuangan tersebut. Pada dikala inilah, ia bisa bertindak hanya sebagai pengawas, sedang perjuangan dijalankan pegawainya. Bila ia seorang ibu, maka pada titik ini ia sanggup lebih banyak mencurahkan waktunya untuk keluarga. Atau kemudian ia bisa menciptakan penemuan lainnya. Yang pasti, penghasilan telah bisa didapatnya dari rumah.
(Asmawati / laporan Rosita, Jumina)

Post a Comment

0 Comments