Membentuk Jiwa Wirausaha Semenjak Dini


"Tanggungjawab, kreativitas dan bisa mengambil keputusan yaitu sifat yang akan muncul pada anak jikalau jiwa wirausaha ditumbuhkan semenjak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak ketika ia dewasa."


Ramalan beberapa hebat perihal citra masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak sanggup disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak semoga mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.



Peran orangtua dan guru
Wirausaha merupakan suatu perjuangan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreativitas. Rasa tanggung jawab dan kreativitas sanggup ditumbuhkan sedini mungkin semenjak anak mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua yaitu pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

Selain itu, tugas lingkungan, semisal guru-guru, juga kuat terhadap pembentukan pribadi anak. Mereka bisa berperan dalam membuat anak semoga bisa menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu, guru harus kreatif mengajar dan membuat soal. “Berikan kesempatan untuk berpikir alternatif. Misalnya, jangan bertanya 5X5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25,” kata Zainun Mu’tadin, S.Psi, M.Psi, Dosen Psikologi UPI YAI.

Dengan kreativitas orangtua dan guru, anak dilatih mempunyai beberapa alternatif tanggapan dan solusi. Alternatif tersebut akan melatih anak bisa mengambil keputusan yang sempurna dari aneka macam pilihan yang ada.

Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang gres untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, berdasarkan Zainun, hal-hal tersebut di sekolah kurang mendapat perhatian. Kebanyakan sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja. Sementara kreativitas masih kurang dikembangkan.
Padahal pengembangan kreativitas akan membuat anak bisa membuat hal-hal baru. Kreativitas inilah modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya yaitu perilaku bertanggungjawab. Sisi konkret lain dari pengembangan perilaku ini yaitu terbangunnya rasa tanggung jawab pada semua hal yang dilakukan. Menurut Zainun, bila banyak orang di Indonesia mempunyai jiwa enterpreunership, maka jumlah koruptor juga akan sedikit. “Bila kelak anak tersebut cukup umur dan mengambil kredit di bank, ia akan bertanggungjawab mengembalikan dan tidak akan kabur,” kata psikolog yang menamatkan studinya di UI ini.

Latihan bertahap
Menumbuhan sifat wirausaha pada diri anak memerlukan latihan bertahap. Latihan wirausaha ini bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bab dari keseharian anak. Misalnya, toilet pembinaan untuk melatih anak yang masih ngompol. Tujuan hasilnya hingga anak bisa membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan menggunakan kembali celananya. Latihan itu dilakukan secara sedikit demi sedikit dan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab.

Latihan lain, contohnya melatih anak untuk sanggup membereskan mainan selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya. Hal ini juga merupakan latihan untuk bertanggungjawab dan awal pengajaran perihal kepemilikan. Ini mainan saya diletakkan di sini. Ini mainan kakak, kalau mau pinjam, harus ijin dulu. Sifat tersebut, berdasarkan Zainun, yaitu awal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak.
Latihan selanjutnya yaitu mengajarkan anak untuk bisa mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang digunakan untuk membiayai rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapat uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar perlu. Dengan demikian anak akan menjauhi perilaku konsumtif.

Dalam mengajarkan anak mengelola uang, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua terhadap aturan. Misalnya, ketika mengajak anak berbelanja. Catat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak belanja di luar catatan belanja. Bila anak mengamuk meminta mainan atau barang kebutuhan lain di luar catatan, maka orangtua harus konsisten untuk membelikannya. Aturan itu harus sudah disepakati semenjak awal.

Latihan menyerupai ini sudah sanggup dilakukan semenjak anak berusia dua tahun. “Jangan anggap anak tidak mengerti apa-apa dengan menyampaikan ‘Ah, masih anak kecil’. Padahal semenjak kecil pun anak sudah bisa berkomunikasi,” tutur ayah satu orang putra ini.

Bisnis kecil-kecilan
Setelah anak diajarkan mengelola uang, tahap selanjutnya si anak mulai sanggup diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah sanggup diajarkan jual beli.

Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal perjuangan untuk mendapat sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil-kecilan. Misalnya, anak bisa diajarkan menjual barang hasil karyanya, saperti es mambo, kue, dan lain-lain. “Ini tidak disarankan untuk dilatihkan, tapi sebetulnya bisa,” ujar Zainun. Syaratnya, tahapan ini bisa dijalankan bila orangtua sudah mengajarkan cara mengelola uang terlebih dahulu. Sehingga anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik. Dengan demikian uang yang mereka sanggup tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu.
Cara yang digunakan oleh David Owen, seorang penulis buku di Amerika Serikat, agaknya layak ditiru. Owen mengisahkan perihal bagaimana ia bisa mendorong anak-anaknya menjadi gemar menabung dan penuh perhitungan dalam membelanjakan uang. Ia membuat “Bank Ayah”, khusus untuk anak-anaknya. Prinsip yang dikembangkan dalam "Bank Ayah" yaitu dukungan tanggungjawab dan kontrol keuangan secara penuh pada anak sebagai pengelola uang mereka sendiri. Uang anak yaitu milik anak, bukan milik orang tua. Bahkan anak juga bebas mencari pendapatan di luar jatah uang saku yang telah mereka dapatkan.

Dalam hal ini "Bank Ayah" berperan dalam melaksanakan kontrol secara tidak langsung, yaitu dengan menyebarkan prinsip-prinsip perbankan menyerupai bonus yang sanggup menarik minat akan untuk menambah saldo tabungan, juga saldo minimal, yang sanggup membatasi jumlah pengambilan uang semoga tidak terkuras habis. Dengan ini anak akan benar-benar bertanggungjawab dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

"Bank Ayah" ala David Owen ini tidak cuma menjadi daya tarik anak untuk menabung. Lebih dari itu "Bank Ayah" dikelola sebagai sarana pembelajaran dari praktik ekonomi kepada anak dengan bahasa yang sederhana. Dengan sedikit improvisasi, Owen mengubah "Bank Ayah" ini menjadi media latihan berinvestasi pada anak-anaknya. Owen sendiri berhasil mendirikan sebuah perusahaan pialang saham yang berjulukan "Dad and Co”.

Jadi semenjak dini jiwa wirausaha baik untuk ditanamkan. Inti dari kewirausahaan yaitu bagaimana menanamkan cara untuk berusaha, memecahkan permasalahan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang ia lakukan. Sangat positif, bukan?
(oleh Sarah Handayani/Bahan :Ami)

Post a Comment

0 Comments