Manajemen Sari Bundo


Kebersamaan antara profesi, hubungan baik pimpinan dan karyawan akan menciptakan bisnis kita tetap bertahan.


Untuk kesekian kalinya, saya mencoba menikmati sajian kuliner di Rumah Makan Padang Sari Bundo di Jalan Juanda, Jakarta. Rumah makan yang ngetop ini menjadi favorit banyak kalangan. Mulai dari mahasiswa, wartawan, direktur hingga menteri. Bahkan, presiden pernah mencicipi nikmatnya kuliner Ranah Minang ini. Padahal
harganya cukup mahal dibanding dengan rumah makan sejenis lainnya. Namun, siapa tidak kenal dengan Rumah Makan Padang Sari Bundo ini, rumah makan padang terlaris di Jakarta, yang mempunyai delapan puluh karyawan dan beromzet dua puluh lima juta per harinya itu.

Dibanding rumah makan yang gres berdiri, biasanya karyawannya banyak yang muda-muda, Sari Bundo yang didirikan semenjak tahun 1968 ini, ternyata sebagian besar usia karyawannya rata-rata sudah cukup umur, bahkan ada yang ikut bekerja semenjak rumah makan ini berdiri. Maka tak mengherankan, banyak di antara mereka yang sudah punya cucu.

Saya melihat loyalitas mereka bekerja di Sari Bundo, sebab paling tidak administrasi bagi hasil yang diterapkan. Dengan sistem menyerupai itu - menyerupai kebanyakan restoran padang - administrasi di sini terbuka atau transparan. Faktor kekeluargaan demikian kuat. Dan, kebersamaan antara sesama profesi, hubungan baik pimpinan dan karyawan, juga ikut mengakibatkan rumah makan ini tetap bertahan.

Dalam operasional rumah makan ini, pemasukan dan pengeluaran setiap harinya semua karyawan ikut mengetahui.sehingga, ada rasa memiliki, dan alhasil mereka pun optimal dalam bekerja. Bila keuntungan perusahaan sedikit, mereka semakin tertantang untuk kerja keras, dengan keinginan bisa meraih untung lebih banyak lagi.

Mereka percaya bahwa antusiasme bekerja menyerupai "mukjizat" di dalam setiap menggeluti bisnis, termasuk bisnis rumah makan padang. Sehingga, masuk akal jikalau karyawan di sini sangat yakin bahwa bila perjuangan meningkat, maka kesejahteraan mereka pun ikut meningkat pula.

"Soal upah bagi mereka prinsipnya yaitu berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. sehingga, mulai pimpinan hingga karyawan mempunyai rasa tanggung jawab untuk tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan "brand image" dari Sari Bundo."


Dan, anehnya, bila ada saudara-saudara pemilik rumah makan Sari Bundo ini, ingin membuka cabang dengan menggunakan merek Sari Bundo, tidak menjadi masalah. Boleh-boleh saja. Agaknya, administrasi Sari Bundo, Jalan Juanda Jakarta ini, masih percaya, bahwa membantu orang lain untuk berhasil itu perlu. Barangkali, hal itu menciptakan administrasi sari Bundo Jalan Juanda Jakarta lebih tertantang lagi untuk semakin maju di dalam menggeluti bisnisnya ini, biar tidak tersaingi dengan Sari Bundo lainnya.

Diperbolehkannya, saudaranya membuka cabang di Jakarta atau pun di kawasan lain, itu jadi bukti bahwa administrasi sari Bundo, tidak menerapkan sistem franchise atau waralaba. Bahkan, pada mereka pun tidak dipungut biaya sesen pun. Hanya sebelumnya mereka harus ijin. Meski demikian, yang terbesar dan teramai didatangi tamu tetap sari Bundo Jalan Juanda Jakarta itu.

Saya mencatat, setidaknya ada empat hal pokok mengapa ia tetap bisa bertahan hingga kini meski di dikala krisis ekonomi sekalipun, selain penerapan menejemen terbuka tadi, juga karena: pertama, rasa masakan. setiap sajian yang ada memang yummy rasanya. Bumbunya sangat terasa. Ikan masih fresh, terasa enak dikala dimakan.


Kedua, rasa layanan. Layanannya memang serba cepat. Dengan pengunjung yang banyak tanpa diimbangi dengan layanan cepat, tentu akan mengecewakan pengunjung. Hanya dalam waktu satu menit, tamu bisa eksklusif menikmati banyak sekali sajian yang terhidang disini. Sari Bundo benar-benar menawarkan service bagi para pelanggan atau orang yang dilayani, sehingga mereka merasa menyerupai "raja" yang harus dihormati. Sari Bundo lakukan ini semua karena, mereka sangat mengerti, bahwa pelanggan yaitu orang-orang yang menjadi sumber pendapatan, yang menjaga kelangsungan perjuangan atau bisnisnya.

Ketiga, lokasinya yang strategis. Manajemen Sari Bundo menyadari, bahwa lokasi rumah makan yang strategis juga akan lebih mendekatkan dengan konsumen. Meski, bangunannya tidak terkesan glamor dan besar, namun penggemar kuliner padang tidak terlalu sulit mencarinya, sebab lokasinya memang sangat strategis, di Jalan Juanda Jakarta. Apalagi tamu dilayani dengan ramah.

Keempat, nama Sari Bundo yang populer itu. Tamu yang menikmati sajian kuliner padang di rumah makan terkenal, menyerupai Sari Bundo, menciptakan para tamu merasa mantap. Artinya, sebelum mereka ke Sari Bundo, seolah belum makan kuliner padang.

Kalau kesemua faktor tersebut tetap dipertahankan oleh administrasi Rumah Makan Padang Sari Bundo, maka pengunjung akan tetap ramai. Omzet akan meningkat, apalagi administrasi Sari Bundo tahu persis, bahwa bisnis ini didirikan untuk sukses menjual produknya. Itu akan jauh lebih gampang jikalau gambaran yang dipancarkan selama ini tetap dipertahakan, bahkan jikalau mungkin ditingkatkan.

Hanya masalahnya, bisa tidak Sari Bundo mempertahankan kualitas produknya, pelayanannya, demi kestabilan usahanya. Itu juga penting. Namun, saya yakin, administrasi Sari Bundo paham sekali akan hal itu. Sebab Sari Bundo sebagai rumah makan yang sukses akan terus menerus bertanya, "Bagaimana saya bisa paling baik melayani keinginan. kebutuhan, dan keperluan pelanggan saya?" Yah, begitulah Manajemen Sari Bundo.

oleh: Purdi E. chandra

Post a Comment

0 Comments