Kisah Colman Mockler, Sang Ceo Gillette


Jim Collins, penulis buku laku Built to Last dan Good to Great menjulukinya sebagai pemimpin tingkat 5, yang berhasil membawa perusahaan yang dipimpinnya dari tepi kehancuran untuk mencapai prestasi yang jauh di atas rata-rata perusahaan lain di industri yang sama. Majalah internasional Forbes juga menggambarkannya sebagai pemimpin yang berhasil membawa Gillette ke puncak. Siapa Mockler? Teladan apa yang sanggup kita gali dari CEO Gillette tahun 1975 hingga 1991 ini?

Pejuang Bisnis Tangguh
Sensor, Sensor untuk wanita, dan Mach 3. Ketiga produk Gillette ini merupakan produk yang terkenal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dari produk-produknya ini, Gillette telah meraup banyak keuntungan. Kesuksesan luar biasa ini tak akan terjadi jikalau Colman dengan gampang mengalah ketika perusahaan yang dipimpinnya ini akan diambil alih pertama kali oleh Ronald Perelman dari Revlon, kemudian oleh perusahaan Coniston Partners, yang ingin mengambil alih Gillette untuk menjualnya kepada penawar yang tertinggi.

Colman yakin bahwa Gillette mempunyai masa depan yang cerah dengan produk-produk yang hebat, untuk itu ia rela berjuang bersama timnya untuk mempertahankan perusahaan ini. Walalupun dengan menyerahkan Gillette untuk dijual, Mockler akan mendapat laba eksklusif yang luar biasa sehingga sanggup pensiun dini dengan uang berlimpah, hal ini tidak dilakukannya. Ia lebih mementingkan kepentingan karyawan Gillette dan masa depan perusahaan.

Dengan tekun Colman memimpin timnya untuk menghubungi satu per satu pemegang saham perorangan untuk memenangkan bunyi mereka guna mengalahkan bunyi pemegang saham terbesar yang berniat menjual Gillette. Semua tindakan dan keputusan yang dilakukan oleh Mockler senantiasa diperjuangkannya dengan sepenuh hati dan dengan memperlihatkan ide-idenya yang terbaik untuk mencapai hasil yang terbaik, bukan bagi kepentingannya sendiri, melainkan untuk kepentingan orang banyak.

Pejuang Bisnis yang Rendah Hati
Walaupun Colman telah banyak memperlihatkan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan perusahaan yang dipimpinnya, ia tetap rendah hati. Ia mengalihkan perhatian publik dan media massa dari prestasinya ke prestasi orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia senantiasa menekankan bahwa semua yang telah dicapai Gillette tak akan mungkin terjadi tanpa kontribusi para karyawan yang hebat. Untuk itu, dalam menentukan karyawanpun, ia tidak sembarangan. Keterampilan dan pendidikan memang penting, tapi yang dianggap paling penting bagi Mockler yaitu perilaku positif.

Keterampilan sanggup diajarkan, tapi perilaku sulit dibentuk. Jadi, untuk orang-orang pilihan yang telah direkrutnya, ia tidak segan-segan memberi kompensasi dan penghargaan yang tinggi, jauh lebih tinggi dari kompensasi dan penghargaan yang diberikan perusahaan lain di industri yang sama bagi karyawan mereka. Tidak heran jikalau para karyawan pun menjadi setia dan senantiasa berusaha memperlihatkan kontribusi mereka yang terbaik bagi perusahaan.

Pejuang Bisnis dengan Hidup Seimbang

Walaupun sibuk dengan pekerjaannya dan para karyawannya yang sangat dihargainya, Mockler tidak pernah melupakan kehidupan keluarga dan masyarakat. Mockler senantiasa terlihat ceria, alasannya ia sanggup mengembangkan kebahagiaan dengan keluarga, dan masyarakat. Sebagai pekerja keras, Mockler sangat disiplin dalam waktu, dan tidak segan untuk mencurahkan seluruh perhatiannya bagi pekerjaan selama ia di kawasan kerja.

Namun demikian, sepulang kerja (Mockler hampir tidak pernah kerja lembur), ia mencurahkan perhatian pada keluarga dan masyarakat. Di masyarakat ia membaktikan waktu dan pikiran pada aneka macam perusahaan sosial dan acara keagamaan (Mockler merupakan pemeluk agama yang taat). Dari orang-orang sekitarnya ini, ia banyak mendapat kontribusi yang luar biasa, baik ketika mengalami masa krisis maupun di masa senang. Dukungan orang-orang sekitarnya inilah yang sangat dihargai Mockler dan dianggap Mockler sebagai anugerah yang terbaik yang pernah didapatkannya. Sebaliknya, orang-orang di sekitar Mockler dengan senang hati membantu Mockler, alasannya CEO Gillette ini juga sangat menghargai mereka dan tidak segan juga membantu mereka.

Sukses memang tidak sanggup diraih sendiri. Untuk mendapat sukses, kita perlu terlebih dahulu memberi sukses bagi orang-orang lain di sekitar kita. Selain itu, sukses memang tidak selalu gampang dicapai, dan sering potensi sukses juga belum sanggup terlihat ketika ini. Tapi dengan iktikad tinggi, dan semangat untuk berjuang untuk kepentingan banyak orang bagi laba di masa depan, sukses akan tiba dengan sendirinya. Prinsip-prinsip inilah yang kiranya patut kita teladani dari Colman Mockler yang telah berjaya membawa Gillette ke posisi puncak di pasar dunia.


Referensi: dari aneka macam sumber

Post a Comment

0 Comments