Keuntungan Bisnis Pembuatan Kompos



AGAR sampah sanggup dijadikan sebagai materi baku kompos, langkah pertama yang harus dilakukan ialah melaksanakan pemilahan sampah sesuai jenis. Saat ini memang masih terasa sulit memilah-milah sampah. Namun, bila semenjak awal sudah dibiasakan, pemilahan akan lebih gampang dilakukan. Pemilahan sebaiknya sudah dilaksanakan semenjak tingkat rumah tangga, pasar, atau komunitas lain. Sampah organik dipisah dari sampah non-organik. Caranya, dengan menempatkan masing-masing jenis ke dalam kantong plastik yang berbeda warna. Misalnya kantong plastik bening untuk sampah organik, kantong plastik putih untuk sampah kertas/karton, dan kantong warna hitam untuk jenis sampah lainnya.

Sampah hasil pemilahan kemudian dikirim ke titik RT (first line point). Selanjutnya, oleh petugas yang didanai oleh masyarakat, sampah itu dibawa ke titik pengumpulan RW (second line point). Dari situ dibawa ke tingkat kelurahan (third line point), untuk kemudian diangkut ke pabrik kompos. Sedangkan sampah nonorganik ibarat besi dikirim ke pedagang besi tua, sampah plastik ke pabrik plastik daur ulang, sampah kertas/karton ke pabrik kertas/karton daur ulang. Demikian pula dengan sampah berupa kaca.


Di pabrik kompos, sampah organik eksklusif dicacah menjadi halus. Setelah itu, dibawa ke lokasi pembuatan kompos yang letaknya di daerah yang sama. Para pemulung yang jumlahnya begitu banyak sanggup dilibatkan dalam pembuatan kompos ini. Proses pembuatan kompos ini sangat sederhana sehingga mereka kalau dilatih akan menguasainya dengan cepat. Jika proses ini sanggup diselesaikan dalam waktu sehari selesai (one day finish), wangi kedaluwarsa akan hilang dengan sendirinya.

Sampah organik sanggup dibentuk menjadi kompos hanya dalam waktu dua minggu, sisanya memerlukan waktu lebih lama. Sisanya, sebanyak 15-20 persen sampah organik yang tak terurai akan dibakar dan arangnya sanggup dimanfaatkan untuk menaikkan pH tanah dan mengikat unsur logam berat yang beracun.

Kebutuhan lahan
Lahan yang dibutuhkan sekira 1 m2 per 2 m3 sampah dikalikan potensi jumlah sampah yang ada dan waktu yang dibutuhkan untuk mengolah sampah. Misalnya, produksi sampah mencapai 150.000 ton/bulan, lahan yang dibutuhkan mencapai 15 ha. Lahan tersebut sanggup dibagi menjadi 3-4 lokasi biar jarak tempuh kendaraan pengangkut tidak terlalu jauh. Setiap pekerja sanggup menciptakan kompos sekira 1 ton/hari. Jika tiap kg kompos “dibeli” dengan harga Rp 25,00/kg, mereka akan mendapat penghasilan Rp 25.000,00 hari. Sampah organik sebanyak 2.000 ton sesudah diolah dan disaring akan menjadi 1000-1200 ton saja atau dengan angka konversi 50-60 persen. Sisanya menguap.

Biaya pembuatan kompos sekira Rp 75,00 – Rp 100,00/kg, termasuk biaya pembelian mikroba pelapuk materi organik sebesar Rp 6.000,00 – Rp 33.000,00/ton sampah. Jika harga jualnya sekira Rp 200,00/kg maka kompos ini akan laku terjual. Saat ini harga kompos di pabrik sekira Rp 350,00 – Rp 1.50,00/kg, umumnya hanya terserap oleh flora hias dan beberapa jenis flora hortikultura dan pangan. Kompos sangat dibutuhkan untuk lahan pertanian alasannya ialah fungsinya yang sanggup meningkatkan kesuburan tanah. Kesuburan kimia dan fisik tanah akan bertambah dan selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Di bidang perikanan, contohnya tambak umur pemeliharaan ikan sanggup dipersingkat. Areal bekas pertambangan akan sangat baik kalau diberi kompos, lahan yang sudah rusak sanggup ditanami kembali.

Kandungan hara
Kompos yang baik mengandung unsur hara makro Niotrogen > 1,5 % , P2o5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium ) > 1,5 %, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 15-20 , diatas atau dibawah itu kurang baik. Untuk kepentingan bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus memiliki kualitas yang ajek dan supply yang berkesinambungan.

Pupuk kompos untuk flora organik, kalau unsur haranya kurang sanggup ditambah dengan materi organik lainnya. Nitrogen sanggup ditambahkan urine ternak, mikroba pengikat Nitrogen, pupuk organik yang berasal dari hewani ibarat ikan, darah, dll. Phosphat sanggup ditambahkan dari pupuk guano atau rock phosphat, sanggup juga dicampurkan dengan mikroba pelepas phosphat. Kalium sanggup ditambahkan dari arang/abu batok kelapa/kelapa sawit, bubuk bekas incenerator, dll.

Pupuk kompos yang tidak diperuntukkan bagi flora organik, selain dari adonan di atas sanggup pula diberikan adonan dengan pupuk buatan. Jadi, pupuk ibarat ini hanya dipergunakan untuk flora nonorganik. Karena materi baku sampah tidak tetap, dibutuhkan adonan dengan materi lain biar kualitasnya terjaga. Quality control harus diterapkan di sini, sehingga orang yang membeli benar-benar puas.

Jenis kompos
Produksi kompos sanggup dibedakan ke dalam tiga kelompok. Pertama, kompos murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan flora organik, namun juga sanggup dipakai untuk lahan pertanian nonorganik. Kedua, kompos plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang telah diperkaya ini juga diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun juga sanggup dipakai untuk lahan pertanian nonorganik (biasa). Ketiga, kompos plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya sanggup dipakai untuk lahan pertanian nonorganik.

Pada dasarnya kompos sanggup meningkatkan kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Pada flora hortikultura (buah-buahan, flora hias, dan sayuran) atau flora yang sifatnya perishable ini hampir mustahil ditanam tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti sanggup meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, flora akan tumbuh lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur pemeliharaan ikan berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi 5-6 bulan.

Selain itu, kompos menciptakan rasa buah-buahan dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal inilah yang mendorong perkembangan flora organik, selain lebih sehat dan kondusif alasannya ialah tidak memakai pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih getas, dan harum. Penggunaan kompos sebagai pupuk organik saja akan menghasilkan produktivitas yang terbatas. Penggunaan pupuk buatan saja (urea, SP, MOP, NPK) juga akan menunjukkan produktivitas yang terbatas. Namun, kalau keduanya dipakai saling melengkapi, akan terjadi sinergi positif. Produktivitas jauh lebih tinggi dari pada penggunaan jenis pupuk tersebut secara masing-masing.

Selain itu, air lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan TPA sanggup dijadikan pupuk cair atau diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke akses umum. Keuntungan lainnya dengan dihilangkannya TPA (tempat pembuangan akhir) dan diganti dengan TPK (tempat pengolahan kompos) alias pabrik kompos, lahan untuk sampah ini tidak berpindah-pindah, cukup satu daerah untuk acara yang berkesinambungan.

Dengan demikian, pembuatan kompos dari sampah organik perkotaan akan sangat menguntungkan. Pemkot pun sanggup mendapat penghasilan tambahan. Jika dalam sehari ada 5.000 ton sampah, dalam sehari tersedia 3.500 ton sampah organik yang siap dikonversi menjadi kompos. Dengan perkiraan 1 kg sampah organik sanggup menghasilkan 0,6 kg kompos, dalam sehari sanggup dihasilkan 2.100 ton kompos. Dalam sebulan tersedia 63.000 ton kompos. Jika tiap kg kompos dijual dengan harga Rp 200,00, gross income per bulannya mencapai 12,6 miliar dan net income Rp 6,3 miliar. Lumayan besar. Jadi, kenapa tidak coba dimulai mendirikan pabrik kompos? :)

oleh Ir. Memet Hakim, MM


Post a Comment

0 Comments