Jangan Bawa Stres Kantor Ke Rumah

 setiap pulang kerja ia selalu melimpahkan kekesalan kepada istri dan anak Jangan Bawa Stres Kantor ke Rumah
Rudi punya kebiasaan buruk, setiap pulang kerja ia selalu melimpahkan kekesalan kepada istri dan bawah umur di rumah. “Saya masih tolerir jikalau murka hanya ke saya. Tetapi bawah umur yang tidak tahu apa-apa sering galau melihat papanya murka sepulang kerja,” kata Asti, istri Rudi.

Rudi yang bekerja sebagai kepala akuntansi di sebuah perusahaan humas berdalih kemarahannya disebabkan oleh rasa lelah dari kantor bertambah sehabis terpancing emosi dengan tingkah laris bawah umur dan istrinya. “Baru hingga rumah sudah disambut laporan nilai ujian bawah umur yang jelek, tagihan listrik membengkak, kerusakan ledeng, soal telepon dan sebagainya. Padahal seharian stres membaca laporan keuangan kantor,” kata Rudi.

Dianti mempunyai dilema serupa dengan Rudi. Perempuan berusia 37 tahun yang bekerja di agensi periklanan ini mengatakan, tiap kali pulang ke rumah dan bertemu suaminya, ia disambut omelan tak lezat didengar. “Suami komplain rumah belum higienis benar sebelum saya tinggal kerja. Seharusnya, beliau mengerti kami sama-sama bekerja,” ujarnya.

Seharian beraktivitas di luar rumah memang membuat tubuh letih dan pikiran stres. Tanpa disadari, ini cenderung membuat seseorang kesulitan untuk membuat waktu berkualitas dengan keluarga.

Sebuah riset terbaru yang dilakukan Lisa Neff, Ph. D memaparkan bahwa orang yang lelah sehabis beraktivitas cenderung mengalami bad mood dan menjadi tidak ramah ketika datang di rumah. Dalam penelitian yang dilakukan ajudan profesor pada departemen pengembangan insan dan ilmu keluarga di Universitas Texas di Austin ini, ia menemukan tuntutan pekerjaan seseorang, belum lagi menahan rasa lapar, dan rasa tertekan akan kesibukan esok hari telah memicu emosi yang kemudian ditumpahkan ke orang rumah.

"Sering disebut sebagai adult tantrum atau kondisi ketika orang sampaumur merasa kesal dan jengkel lantaran tertekan. Biasanya membawa stres kantor ke rumah," ujar perantara pasangan dan penulis buku Fight Less, Love More, Laurie Puhn, J.D. Kondisi ini terjadi lantaran salah satu pihak sudah seharian menahan diri dan emosi sehingga ketika hingga di rumah, ia cenderung meluapkan kekesalannya kepada pasangan mereka.

Konsultan sumber daya manusia, Dewi P. Faeni, menyampaikan seseorang kerap kesulitan menangani beban psikologis pekerjaan lantaran insan merupakan makhluk yang unik dengan segala permasalahan psikososialnya. Permasalahan psikosial yang mungkin timbul dari banyak sekali variabel pemicu, contohnya putus cinta, perceraian, beban hidup, dan kesulitan finansial, akan membuat seseorang sulit mengatasi beban kerjanya lantaran otak seseorang yang fatigue (lelah).

Ketika tak mampu menanggung beban pekerjaan itu, kata Dewi, perilaku fatalistik bisa timbul. “Saat marah, ia gampang melaksanakan hal-hal destruktif,” ujarnya. Permasalahan di daerah kerja, bila tak terselesaikan, akan menimbulkan stres tingkat tinggi dan berdampak terhadap kehidupan sehari-hari di rumah tangga.

Agar tak selalu membawa dilema ke rumah, Dewi menyarankan selalu menerapkan konsep ON and OFF, ialah metode seakan-akan menyalakan dan mematikan lampu. Seseorang sebaiknya menerapkan sistem NIP atau Nothing In Personal dalam konsep berpikir. Misalnya bila ia ditegur berangasan oleh atasan, ia harus membekali diri dengan perilaku positif. “Begitu pula, ketika masuk gerbang rumah, ia akan secara otomatis meninggalkan pikiran mengenai pekerjaannya dan mengalihkannya pada pengembangan diri, bukan yang lain,” katanya.

Ia memperlihatkan cara gampang untuk mengatasi kelelahan dan stres itu. Di antaranya, bisa melaksanakan administrasi stres ringan, menerapkan hidup yang seimbang, mempunyai hobi yang bisa melupakan beban pekerjaan, membuat lingkungan keluarga yang hangat, memacu hormon beta endorfin melalui olahraga, mempunyai sobat yang bisa menampung curahan hati, piknik dengan keluarga, dan merasa jatuh cinta lagi dengan pasangannya.

Dewi mengatakan, wanita cenderung rentan terhadap stres. Tapi, “ia juga mempunyai ketahanan stres lebih lama.” Sebaliknya, laki-laki tidak rentan terhadap stres, tapi sekali mengalami masalah, mentalnya eksklusif drop.

Post a Comment

0 Comments