Jadi Pengusaha Tak Harus Pintar


Berikut ini dipaparkan beberapa kutipan Purdi E Chandra, pendiri Primagama dan Entrepreneur University yang menjadi pembicara utama dalam seminar yang mengangkat tema "gila", maka setiap ungkapan yang dikemukakan Purdi terasa "gila" dan menciptakan akseptor tertawa. Saya masuk kuliah di empat universitas tapi tidak selesaikan kuliah.

Tapi saya juga heran kenapa sanggup dirikan Primagama, sebuah forum bimbingan mencar ilmu terbesar di Indonesia yang cabangnya hingga ratusan. Padahal saya tidak terlalu pintar-pintar amat. Makanya saya berpikir jikalau kita terlalu pintar
mengakibatkan terlalu banyak pertimbangan, yang kesudahannya tak ada sama sekali yang sanggup dikerjakan.

Makanya mungkin alangkah baiknya anak kita jangan terlalu cendekia (hadirin tertawa). Anak saya yang di Sekolah Menengah Pertama ranking 11 pribadi minta mobil. Ini sudah luar biasa dibandingkan sebelumnya yang ranking 20-an. Dia juga mau jadi pengusaha. Lihat saja banyak orang cendekia tapi tidak mau kerja.


Untuk mau menjadi pengusaha jangan terlalu banyak pertimbangan. Laksanakan saja niat itu dan tunggu hasilnya. Coba lihat pakar akuntansi tidak mau berusaha alasannya apa. Yah itu tadi alasannya mereka belum berusaha sudah takut jadi pengusaha, alasannya mereka sudah mempelajari dulu hitung-hitungan menjadi pengusaha yang mengerikan makanya
mereka takut sebelum berusaha.Lalu kenapa orang mau jadi pengusaha. Saya kira Jaya Setiabudi sudah memaparkan banyak tadi.

Yah jadi pengusaha itu contohnya gini, saya merasa tiap hari kerjanya apa. Paling jikalau ada yang mau ditandatangani gres muncul. Makanya yang perlu diketahui calon pengusaha tidak usah muluk-muluk kalu sudah sanggup tanda tangan yah bagus-lah (hadirin tertawa).

Pengusaha itu tidak perlu tinggi-tinggi sekolah, alasannya yang mereka perlukan hanya tahu tanda tangan dan mengingat bentuk tanda tangannya jangan hingga salah tanda tangan satu dengan lainnya.Selain itu, pengusaha kebanyakan dari orang malas. Sebab orang yang sudah cendekia itu diperebutkan sama perusahaan untuk menjadi karyawan. Makanya yang jadi pengusaha itu dulunya orang malas. Orang malas bersama-sama bukan hal yang negatif alasannya melihat pengalaman selama ini, kebanyakan mereka yang jadi pengusaha.

Nah, orang cendekia akan diperlukan pengusaha sebagai tulang punggung perusahaan. Misalnya, saya sebagi Direktur, banyak pegawai saya ialah para doktor, sementara saya tamat kuliah juga tidak. Paling saya menciptakan perguruan perguruan tinggi dan memanggil para doktor mengajar di daerah saya dan gelar saya sanggup dari perguruan saya sendiri.

Setelah berbicara bahwa seorang pengusaha tak harus pintar, pendiri forum pendidikan Primagama dan Entrepreneur University, Purdie E Chandra, mengupas pembicaraan mengenai fungsi otak kanan sebagai salah satu tips menjadi pengusaha, berikut beberapa petikannya.Untuk menjadi pengusaha memang harus sedikit "gila". Lebih asing lagi jikalau teman-teman tidak mau jadi pengusaha (hadirin tertawa). Untuk menjadi seorang pengusaha pakailah otak kanan Anda.

Kalau perlu jangan gunakan sama sekali otak kiri. Kenapa harus otak kanan?Ini yang lucu alasannya otak kanan mengajarkan kita hal yang tidak rasional. Berbeda dengan otak kiri, ia memberitahukan sesuatu yang rasional, teratur, dan berurut-urut.

Misalnya begini, murid SD disuruh kreatif sama gurunya. Ia disuruh menciptakan gambar pemandngan. Karena dari dulu gambar pemandangan yang ia tahu hanya yang ada gunung kemudian dibawahnya jalan raya dan sungai, maka hingga beliau SMU pun hanya gambar itu yang ia tahu. Ketika diperintahkan menggambar pemandangan. Ini keteraturan tapi tidak ada kreativitas. Kalau ada otak kanan maka ia akan memberitahukan sesuatu yang lebih kreatif.

Lalu, apakah Anda mau dari dulu jadi karyawan terus menerus, tidak kreatif ingin menjadi pengusaha dan punya karyawan.Atau begini, anda bangkit setiap pagi, mandi, naik angkot ke kantor, bekerja kemudian menjelang sore pulang ke rumah sehabis itu tidur dan besoknya lagi ke kantor.

Itu dijalani selama belasan tahun bahkan hingga kakek-nenek. Dan sama sekali terbatas waktu yang sebanyak-banyaknya dengan orang luar yang lain dari yang dibayangkan.Itulah keteraturan dan yang mengatur semua itu ialah otak kiri. Apakah Anda mau seprti itu seterusnya? Makanya gunakanlah otak kanan. Mau jadi pengusaha biasakanlah otak kanan Anda yang bekerja.

Dan Anda tak perlu setiap hari ke kantor dan pulang sore. Kenapa ajun kita selalu bergerak? Karena yang menggerakan ialah otak kiri makanya teratur hasilnya. Lalu, apakah kita harus ibarat anak SD terus yang hanya cendekia menggambar pemandangan satu model yang diajarkan gurunya?Otak kanan tidak banyak hitungan atau pertimbangan macam-macam. Ia lebih banyak mengerjakan apa yang dipikirkannya. Kalau mau perjuangan jangan terlalu banyak hitung-hitungan.

Waktu bikin banyak perjuangan saya tidak banyak hitung-hitungan dan Alhamdulillah sukses. Saya kira banyak pengusaha lain yang ibarat itu. Lihat saja beberapa orang terkaya di dunia tidak hingga selesai kuliahnya, Bill Gates contohnya bahkan beliau menjadi penyokong dana utama Harvard University (Universitas ternama dunia di Amerika).

Ibaratkan kita mau jadi pengusaha itu sama ibarat ketika hendak masuk kamar mandi. Kenapa? Karena masuk kamar mandi kita tidak berpikir pikir....

kalau kebelet....yah pribadi masuk saja. Terserah di dalam kamar mandi "sukses" atau tidak itu urusan belakang. Kalau di dalam kamar mandi tidak ada sabun kan kita kesudahannya keluar juga dan ada upaya untuk mencari.

Orang terkadang akan mencari sesuatu apapun yang menurutnya mendesak dengan aneka macam cara. Kalau pun pada ketika itu tidak ada sabun di rumah ia akan berusaha untuk mencari sabun hingga dapat. Untuk latih otak kanan tidak perlu sekolah-sekolah tinggi. Anak saya yang Sekolah Menengah Pertama kini jikalau bukan alasannya takut ditanya calon mertua kelak, mungkin beliau sudah berhenti hingga Sekolah Menengah Pertama saja. Jangan hingga calon mertua nanti tanya, anaknya lulusan apa? (peserta seminar tertawa).

Referensi: Dari aneka macam sumber

Post a Comment

0 Comments