Hidup Itu Harus Dijalani


Kiat Wirausaha Sukyatno Nugroho

"Kiat selalu menggoda. Bagaimana orang bisa sesukses itu? Apa yang mereka lalukan? Banyak wirausaha menjawab seadanya. Sukyatno Nugroho punya tiga: melakoni, pantang mengalah dan kerja keras. Klise tapi terbukti."

Es Teler 77, Mie Tek-tek, dan Pasti Enak yaitu waralaba-waralaba nasional yang tergolong sukses. Di balik kesuksesan bisnis itu yaitu Yenni Setia Widjaja yang hobi memasak, dan suaminya Sukyatno Nugroho. Suami istri bisnisman ini sekarang tergolong sebagai pengusaha yang sukses. Merk-merk dagangnya berkibar dimana-mana melalui sistem waralaba atau franchise. Sebelum krisis moneter menerpa jumlah terwaralaba (Franchisee) mencapai 200 cabang untuk Es Teler 77, 20 cabang untuk Mie Tek-Tek. Ide Es Teler 77 Juara Indonesia sendiri, bergotong-royong bermula dari keberhasilan mertua Sukyatno, Ny Murniati Widjaja, yang memenangkan Juara I Lomba menciptakan es teler se- Indonesia pada tahun 1982. Disamping itu suami istri ini juga didukung sepenuhnya oleh Trisno Budiyanto, manajer keuangan Es Teler 77.

Dalam banyak seminar, Sukyatno sering memperkenalkan dirinya sebagai penyandang gelar MBA yang akronim dari "Manusia Bisnis Asal-asalan". Jalan hidupnya memang awut. Di sekolah peringkatnya yaitu nomor 40 dari 50 murid. Ijasahnya hanya hingga SMP. Di SMTA ia hanya tahan 3 bulan di kelas satu. Pengalaman bisnisnya pun termasuk "asal-asalan". Ia pernah menjadi salesman kondom, obat cina, materi kimia, dan barang-barang teknik. Ia belum pernah diterima sebagai pegawai bulanan. Tetapi ia pernah menjadi pemborong bangunan, reklame, leveransir, percetakan, distributor jasa sekaligus tukang catut serabutan. Bangkrutpun pernah dialami hingga habis-habisan. Tepatnya ini terjadi duapuluh tahun yang lalu, pada tahun 1978. Sukyatno terpuruk hutang. Hutangnya dibanding kekayaan yang dipunyai dikala itu yaitu 10 : 1. Kaprikornus debt service rationya sudah mencapai 1000% disitulah hobi masak Yenny berperan sebagai penyelamat. Isterinya itu berjualan bakmi di garasi rumahnya.

Pernah si wirausaha ini meneteskan air matanya alasannya yaitu dari hasil jualan bakminya waktu itu tidak bisa untuk membayar sekolah anaknya. Dan dengan bekal turun kelapangan dari bisnis-bisnis sebelumnya, Sukyatno bisa berbagi Es Teler 77 dengan cepat dan sekarang sudah memasuki tahapan stabil. Kini bahkan sudah dilakukan diversifikasi melalui pembukaan Mie Tek-Tek, dan Pasti Enak yang menjual aneka hidangan ikan.

"Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" yaitu satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, kemudian bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata."

Ceritera Sukyatno
Mungkin alasannya yaitu pendidikannya yang berhenti di tengah jalan, Sukyatno tidak memiliki banyak pilihan karier. Pilihan yang terbuka luas yaitu terjun ke lapangan, mengais rejeki apa saja yang mungkin. Langsung terjun, kerja keras, tidak mundur oleh kegagalan, ketiga langkah ini yang mewarnai sepak terjang Sukyatno Nugroho. Dalam suatu seminar tahun kemudian yang diselenggarakan oleh Forum KUKKI dan Inti pesan Pariwara, Sukyatno menceriterakan kehidupan wirausahanya, "Hidup saya amat dipengaruhi oleh motto klasik bahkan klise. Namun ternyata manjur untuk hingga sebutan "sukses", terutama dalam berwiraswasta.
Motto-motto itu adalah:

Hidup ini harus dilakoni (dijalani), bukan hanya di khayalkan.

Kegagalan dalam hidup yaitu kesuksesan yang tertunda.

Hidup harus diisi dengan kerja keras, dengan menggunakan akal, bukan Sekedar Okol

Dalam falsafah "Hidup ini harus dilakoni, bukan di khayalkan", saya menarik beberapa simpul yang penting. Satu di antaranya yang patut diperhatikan ialah: kecenderungan anak untuk ikut menikmati hasil kekayaan orang tuanya, atau mertuanya, atau saudara dekatnya. Bagi saya, kecenderungan seorang anak ikut menikmati kekayaan pendahulunya, bisa disebut sebagai anak yang memakan khayalan. Atau anak yang melahap angan-angan, alasannya yaitu imajinasi atau angan-angan itu sekonyong-konyong sudah ada di hadapannya. Hal itu, bagi saya sangat tidak realistis, dan harus dihindari, alasannya yaitu dengan begitu ia tidak masuk kriteria melakoni hidup.


Bagi saya, menggunakan hasil kekayaan para pendahulunya (orang tua, mertua, dan sebagainya) sama dengan minum racun. Sebab, bila seorang anak neggak kemudahan itu melebihi kadar, akan over takaran dan mabuk. Kemabukan anak itu bisa berupa kemalasan, ketidakkreatifan, kebodohan. Dan hal tersebut akan berujung pada ketidak majuan. Anak muda menjadi mandul.

Hal demikian saya tanamkan kepada bawah umur saya. Saya selalu menyampaikan bahwa saya tak punya apa-apa. Karena itu, sekolahlah rajin-rajin. Dan terampillah dalam bergerak di lapangan. Lalu saya harapkan ia mengikuti semua kegiatan ekstra kurikuler, ibarat Pramuka, PMR, PMI, dan sebagainya.

Saya merasa itu yaitu pendidikan keterampilan paling awal, yang akan membawa anak ke sukses lapangan. Kini bawah umur saya remaja, dan saya sekolahkan di Australia. Keterampilan yang dibawa dari ekstra kurikulum di Indonesia, ternyata bermanfaat di sana. Ketika di kotanya terjadi banjir, mereka bisa eksklusif terlibat, membikin pemberian PPPK dan sebagainya. Usaha sukarela ini berlanjut kepada kegiatan yang lain. Ketika trend libur, ia jadi tidak canggung-canggung lagi turun ke lapangan.

Anak saya siap menjadi tukang cuci, atau loper koran, atau tukang lap meja sebuah restoran. Semangat ringan tangan mereka ditolakkan dari perasaan sebagai "orang bawah", sebagai orang biasa. Kalau mereka semenjak kecil dibiasakan dengan spirit anak orang kaya, saya rasa mereka akan celaka. Kemauan ringan tangan inilah yang menciptakan mereka terampil. Dan kemauan untuk ringan tangan itu membawa bawah umur kepada benturan-benturan ilmu baru, ilmu yang dengan serta merta ia dapatkan secara formal. Saya yakin, hasilnya yaitu sejumlah sikap kewiraswastaan yang punya prospek hebat. Sebab yang dipegang akibatnya ialah "Ilmu Plus", yakni ilmu keterampilan, feeling dan strategi.


Orang yang biasa di lapangan, biasanya tak takut pada kejatuhan. Karena ia bermula dari bawah sekali. Dan jikalau pun jatuh, ia bisa pakai rumus silat: Terjerembab satu kali, bangkit dan menendang tujuh kali. Atau mundur selangkah, untuk menerjang maju tujuh langkah. Karena itulah, motto: Kegagalan yaitu kesuksesan yang tertunda, memperlihatkan kebenarannya. Bekerja dengan merangkak dari bawah, dengan bekerja keras menggunakan akal-bukan okol sesungguhnya yaitu proses yang nikmat dan sanggup menjadi sejarah yang cantik buat semuat orang."

Ubah Peluang Menjadi Hasil Nyata
Pengusaha Es Teler 77 ini merupakan salah satu varian dalam panorama wirausaha. Ia melihat peluang, ia mengetahui sikap pasar, ia bersedia bekerja keras mewujudkan peluang tersebut menjadi suatu hasil kasatmata yang menguntungkan. Produk yang dijualnya bergotong-royong merupakan hal-hal yang juga sudah dijual oleh para pengusaha lainnya. Es Teler, Mie Tek-Tek, aneka hidangan ikan, yaitu makanan-makanan yang bergotong-royong biasa. Yang tidak biasa yaitu cara wirausaha ini dalam melaksanakan differensiasi terhadap produk yang dijualnya. Ia memperlihatkan brand dagang pada produknya, dan berkat ketekunan dan kerja keras, brand dagang itu kemudian memiliki nilai jual (brand equity) yang memperlihatkan persepsi produk kuliner yang bersih dan berkelas. Es Teler 77 diterima di banyak pasar. Namun ada juga yang menolak, semisal di Aceh alasannya yaitu nama tersebut memperlihatkan konotasi kepada tindak mabuk-mabukan yang diharamkan oleh fatwa agama.

"Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" yaitu satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, kemudian bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata."
Referensi: Dari aneka macam sumber

Post a Comment

0 Comments