Anda Dapat Jadi Entrepreneur, Hari Ini Juga!


Banyak sekali jalan menjadi entrepreneur, bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bagaimana caranya? Peluang apa saja yang bisa segera ditubruk?

Tak ada profesi yang sedemokratis profesi entrepreneur (wirausaha/pengusaha). Siapa pun Anda, asalkan hari ini punya keberanian, hari ini juga Anda bisa eksklusif menjadi pengusaha -- bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bandingkan, misalnya, untuk menjadi dokter, Anda mesti kuliah dulu bertahun-tahun di fakultas kedokteran. Demikian pula profesi lain ibarat pengacara, arsitek, apoteker, psikolog, atau jago konstruksi.

Memang, umumnya orang berpandangan, untuk menjadi wirausaha kita harus menyiapkan uang tunai lebih dulu sebagai modal. Itu sebabnya banyak orang sibuk berburu uang untuk menghimpun modal, biasanya dengan menjadi karyawan di perusahaan orang. Setelah dirasa cukup, barulah tetapkan membuka perjuangan sendiri. Namun ceritanya akan lain jikalau -- dan ini yang sering terjadi -- uang yang didapat ternyata dirasa hanya pas untuk hidup sehari-hari. Alhasil, impian membuka perjuangan sendiri tinggallah cita-cita, karena usia keburu habis tersita untuk memikirkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Pandangan bahwa untuk memulai perjuangan harus tersedia uang tunai, tak sepenuhnya benar. Dan itu telah dibuktikan oleh para pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka mengawali perjuangan justru ketika mereka tidak punya apa-apa, terdesak, putus sekolah/kuliah karena tak ada biaya, atau bahkan karena merasa terhina. Dalam kondisi nothing to loose ini, keberanian dan kenekatan mereka muncul. Dalam kondisi bukan siapa-siapa, mereka dipaksa untuk membangun “mimpi” masa depan, tertantang untuk meraihnya, dan berusaha keras menyusun seni administrasi untuk mencapainya.

Keberanian dan motivasi yang menyala-nyala itu sekaligus menyingkirkan segala hal yang sebelumnya dianggap memalukan. Misalnya, karena tak punya uang serupiah pun di kantong, mereka tak segan-segan mengawali perjuangan sebagai makelar rumah, mobil, barang elektronik, aneka materi bangunan, materi kebutuhan pokok, atau barang-barang lainnya. Dengan modal dengkul ini, mereka eksklusif memetik keuntungan dari komisi atau menurut kesepakatan
lain yang ditentukan bersama pemilik barang.

Cara lain, misalnya, menjual jasa dengan lebih dulu meminta uang muka. Ini bisa dilakukan di industri jasa pendidikan ibarat bimbingan belajar, les bahasa Inggris, kursus musik (piano, gitar, biola, dan sebagainya). Atau, bisa juga konsumen memesan barang tertentu kepada kita, tetapi sebelum barang pesanan itu kita kerjakan, kita minta uang muka lebih dulu. Nah, uang muka dari para konsumen itulah yang kita jadikan modal untuk menggelindingkan bisnis.

Gampang kan? Masih ada lagi. Kalau Anda kebetulan punya keahlian khusus, memasak misalnya, Anda bisa mencari pemodal untuk membuka restoran dengan sistem bagi hasil. Jurus-jurus ibarat itulah yang tak bosannya diserukan Purdi E. Chandra, pendiri sekaligus “guru besar” Entrepreneur University, di depan para muridnya. Purdi sendiri drop out dari kuliahnya di tahun kedua gara-gara kesulitan uang kuliah dan biaya hidup. “Terus terang, dorongan terkuat dari dalam diri saya waktu tetapkan terjun ke dunia bisnis karena saya minder pada teman-teman kuliah yang hidupnya serba kepenak dan kelihatannya kaya-kaya,” ungkap pendiri dan pemilik Primagama Group, yang mengelola jaringan bimbingan berguru terbesar di Tanah Air. Kini, walaupun tidak menuntaskan kuliahnya, Purdilah yang paling bos dan terkaya di antara belum dewasa Angkatan 1979 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang kini bekerja di banyak sekali tempat.

Yang menggembirakan, belakangan semakin marak tren untuk semenjak awal tetapkan menjadi wirausaha sebagai pilihan hidup. Banyak lulusan segar akademi tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, tanpa ragu bertekad membangun bisnis sendiri. Demikian juga, tak sedikit profesional di perusahaan mapan tiba-tiba ganti haluan menjadi pengusaha.

Seperti akan Anda baca pada goresan pena Sajuta berikutnya, dengan bekal pendidikan yang lebih bagus, luasnya jejaring serta pengalaman yang matang, kelompok ini memang relatif lebih jeli menentukan bidang bisnis yang belum digeluti orang, sehingga banyak dari mereka cepat meraih sukses. Namun, yang paling disaluti dari mereka ialah keberaniannya tetapkan terjun di dunia bisnis, membangun visi, dan eksekusinya yang gigih.

Sungguh banyak jalan untuk menjadi wirausaha. Profesi ibarat dokter, arsitek, desiner interior, pengacara, atau bahkan artis, bekerjsama tinggal selangkah lagi bisa menjadi pengusaha jikalau mereka mau. Dokter bisa bikin klinik atau bahkan rumah sakit sendiri. Pengacara sanggup mendirikan kantor konsultan hukum. Desainer interior bisa bikin kantor konsultan desain dan interior. Artis, dengan pergaulannya yang luas, bisa segera mendirikan rumah produksi sendiri.

Kalau punya uang dan tak ingin terlalu repot, Anda bisa eksklusif menjadi pengusaha dengan membeli waralaba (franchise) produk/jasa populer yang sudah terbukti sukses. Dengan semakin derasnya arus barang (baik lokal maupun dari mancanegara), bisnis keagenan dan distribusi pun sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dalam perjalanannya, ibarat halnya dalam kehidupan yang lain, para wirausaha pun dihadapkan pada banyak jebakan dan godaan. Salah satu sindrom yang sering muncul ialah euforia sukses.

Karena telah pertanda diri sukses, dorongan untuk mengejar sukses-sukses yang lain pun sering sedemikian menggebu sehingga mengabaikan kemampuan riilnya. Banyak referensi pengusaha yang awalnya maju pesat berkat bisnisnya yang berkembang sangat bagus, tiba-tiba limbung kemudian terjungkal gara-gara terlalu ekspansif ke bidang-bidang gres yang belum begitu dikuasainya. 

Jadi, hati-hatilah. Laju boleh cepat tapi ritme hendaknya tetap terjaga.Yang jelas, gairah menuju entrepreneurial society ini perlu disambut hangat.

Sebab, pemberian pengusaha kecil dan menengah terhadap perekonomian nasional -- ibarat sudah sangat kerap didengung-dengungkan -- tak perlu disangsikan lagi. Terutama, dalam hal penyediaan lapangan kerja dan andilnya dalam membangun struktur perekonomian nasional yang sehat. Karena itu, sudah saatnya pemerintah (khususnya pemda) makin terpacu untuk membuat iklim yang aman bagi munculnya para wirausaha baru. Bentuknya bisa macam-macam, antara lain ketersediaan kredit yang memadai bagi small and medium enterprises, penyaluran dana BUMN ke target yang tepat, tidak membebani pajak secara tidak proposional, dan lain sebagainya.

Kegairahan yang sama juga dirasakan SWA yang secara reguler menggelar kegiatan Enterprise 50 (E-50), yakni membuat peringkat perusahaan-perusahaan kecil dan menengah. Pada penyelenggaraan yang kelima ini, SWA bekerja sama dengan PT Usaha Kita Makmur Indonesia didukung oleh Accenture. Tujuan utamanya supaya semakin banyak lahir wirausaha yang tangguh. Di samping, tentu saja, terus memacu perusahaan kecil-menengah yang sudah ada supaya terus berkembang secara kompetitif dan bermanfaat bagi semua stakeholder.

Dari Majalah Swa

Oleh : Harmanto Edy Djatmiko

Post a Comment

0 Comments